Mencari Jalan Cinta Baru
hari demi hari saya jalani hanya untuk belajar di bangku sekolah, berangkat setelah duhur pulang sore yang menurut saya bosan tapi senang rasanya, karna setiap hari hanya begitu dan begitu saja, hanya teman-teman sekelaslah yang membuat saya semangat untuk menjalani sekolah ini.
Setelah hubungan baik dengan sahabat saya yang lumayan lama renggang karna ego masing-masing, akhirnya kita bersama lagi untuk pulang sekolah dan berdiskusi pelajaran di kelas. Lepas bel pelajaran ber akhir kita pulang bersama, dan muncul lah sekelompok perempuan anak SMP yang masih satu yayasan, mereka berjalan di depan kita berdua, ga sadarnya mereka yang sedang bercanda di buntuti oleh kita berdua, kami pun berjalan dengan cepat seakan-akan mau mendahului mereka, padahal engga sama sekali.
Saat kita berjalan di samping mereka saya dan teman saya replek ketawa saat mereka bercanda, akhirnya kitapun kenalan sambil berjalan.
Tak terfikirkan sedikitpun tentang rasa mereka yang menurut saya masih kecil dan gak mungkin buat merasakan cinta saya. Seminggu lamanya kita berjalan bersama perempuan yang di ajak kenalan, sahabat saya langsung menujukan rasa cintanya kepada salah satu diantara mereka yang terlihat cantik dan, jangkis. Dari sana saya ga tau kisah cinta mereka, karna saya juga di respek oleh seseorang dari kelompok perempuan yang tadi, setiap hari semakin dekat saja dengan dia, akan tetapi rasa sakit yang pernah saya alami di season pertama itu membuat fikiran ini takut untuk mengungkapkan rasa yang aku pendam. Selintas terfikirkan dia masih kecil kalo saya nembak sekarang pasti tertolak, akhirnya saya pun bergegas untuk melanjutkan pertemanan saya, meskipun rasa ini harus terpendam dalam-dalam.
Sekitar dua minggu berjalan dengan mulus akhirnya perempuan yang slalu berjalan bersama, menghilang tanpa jejak, saya dan sahabat saya pun cuman berjalan berdua, entah kenapa teman saya juga enggak menemui perempuan yang biasa pulang bareng. Setelah saya selidiki akhirnya teman saya pun curhat tentang hubungannya dengan dia yang engga berjalan dengan mulus, mungkin karna kecantikannya, egonya meningkat, seperti ga di anggap ungkapnya.
Hati saya merasakan penyesalan yang amat mendalam setelah mendengar kabar itu, kenapa ga langsung saja saya ungkapkan rasa yang pernah terlintas ini,? Mulut ini ga bisa berkata-kata lagi selain dari telinga yang mendengar cerita teman saya yang lekas menjalani kisahnya.
Tapi saya yakin suatu saat pasti akan merasakan bagaimana rasanya di cintai dan mencintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar